Tampilkan postingan dengan label berita pondokku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita pondokku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

logo/lambang darunnajah



Lambang Darunnajah
Lambang Darunnajah yang dipakai saat ini dibuat pada tahun 1964. Sebagai organisasi, Darunnajah tidak bias mengabaikan adanya lambang yang mencerminkan visi dan misi dari lembaga pendidikan Darunnajah.
Saat saya (Drs.KH.Mahrus Amin) memimpin Madrasah Darunnajah di Petukangan pada tahun 1964, sudah terbayang wajah dan bentuk Darunnajah di masa mendatang. Ketika itu Darunnajah Petukangan sudah mengasuh 14 santri mukim  yang berlokasi di Ulujami dan memiliki sekolah tingkat Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Diniyah, dan Madrasah Tsanawiyah di Petukangan. Seiring makin berkembangnya Darunnajah, dirasakan perlu membuat lambang.

Lambang saya reka-reka sendiri dengan memanfaatkan sedikit kemampuan seni rupa yang saya miliki. Memang sejak duduk di SR (Sekolah Rakyat) bakat seni sudah muncul dalam diri saya. Bakat ini makin terasa saat saya belajar di Pesantren Gontor. Kegiatan kepramukaan yang saya geluti sejak masa muda hingga menjadi pengasuh pesantren, makin mengasah kemampuan seni saya. Saya jadi terbiasa membuat khat (seni kaligrafi) dan mengajarkannya untuk para santri.
Cita-cita dan visi Darunnajah bisa dilihat dari lambang yang berupa lingkaran yang di dalamnya terdapat gambar bulan sabit, mihrab, Kabah, Al-Quran, pita bertuliskan Darunnajah dalam aksara Arab dan sepasang tunas.
Komponen Logo Darunnajah : 1)Kabah, 2)Mihrab masjid dengan tiga lengkungan, 3)Al-Quran, 4)Sepasang tunas, dengan masing-masing lima gerigi, 5) pita dengan tulisan Darunnajah dalam aksara Arab, 6)Bingkai berbentuk bulan sabit.
Warna Logo Darunnajah : 1)Dasar warna hijau daun, 2)Mihrab, kabah, permukaan al-quran dan pita berwarna putih, 3)Kabah dan tulisan berwarna hitam 4)Tunas, sisi al-quran dan bulan sabit berwarna kuning.
Makna Logo Darunnajah:  1)Kabah melambangkan persatuan umat, 2)Mihrab melambangkan pembinaan kader iman atau pemimpin umat,  3)Tiga lengkungan mihrab melambangkan kesatuan Islam Iman dan Ihsan, 4)Al-quran melambangkan dasar utama Islam dan lambang keilmuan, 5)Sepasang tunas melambangkan pengkaderan pemimpin putera dan puteri, 6) Lima gerigi pada tunas melambangkan prinsip-prinsip pendidikan Darunnajah yaitu Pancajiwa, Pancabina, Pancadharma, dan Pancajangka, 7)Bulan sabit melambangkan perjuangan umat Islam, 8)Warna putih melambangkan kesucian dan keihklasan yang melandasi amal dan usaha, 9)Warna hitam melambangkan keabadian, 10)warna kuning melamangkan semangat, 11)warna hijau melambangkan kedamaian dan keberhakan.
(sumber : KH.Mahrus Amin Dakwah Melalui Pondok Pesantren, Pengalaman Merintis dan Memimpin Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, 2008)
READ MORE - logo/lambang darunnajah Read more...

halal bihalal di darunnajah

Dalam kesempatan Halal Bihalal Santri Non Asrama Ahad, 27 Syawwal 1432 H / 25 September 2011 M , yang berlokasi di halaman SDN 01 Lebakwangi hadir dua muballigh muda menyampaikan taushiyah. Pertama, ustadz Arif Syarifuddin dari Ciampea Bogor. Beliau mengawali ceramahnya dengan menjelaskan keberkahan pesantren. Selanjutnya sang dai menguraikan kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anak. “Semua jerih payah orang tua, seperti memberi makan, pakaian dan pendidikan harus diniatkan sebagai ibadah, agar tidak sia-sia di akhirat!” jelas ustadz Arif.Masih dalam pemaparan ustadz Arif, dijelaskan bahwa manusia memikul amanah yang berat namun mulia. Amanat tersebut terkait langsung dengan Allah,manusia lainnya, diri pribadi dan keluarga. Di akhir ceramah, beliau menjelaskan ada dua jalur ilmu di pesantren atau madrasah. Jalur kepintaran dan jalur kemanfaatan. Jalur pertama diperoleh antara lain dengan rajin belajar, giat menghafal, semangat bertanya dan melengkapi sarana belajar. Adapun jalun kemanfaatan yang juga sering disebut jalur keberkahan ilmu hanya bisa diperoleh dengan memuliakan kyai dan asatidz beserta keluarga mereka (ta’dzimul masyakhih), memuliakan pesantren, tidak mencoreng nama baik pesantren (ta’dzimul ma’had) dan memuliakan segala ilmu yang diajarkan (ta’dzimul ‘ilmi).
Muballigh muda berikutnya adalah ustadz Jalaluddin yang bersasal dari Ciseeng dan berdomisili di Kampung Cipining, Argapura, Cigudeg Bogor. Beliau mengawali uraiannya dengan menjelaskan keutamaan mencari limu, terutama ilmu agama. Dengan latar belakang beliau yang alumni pondok pesantren salaf, dengan apik dan runtut beliau memaparkan cara-cara memperoleh derajat mulia yang dilambangkan dengan al ismu (kata benda) dalam kitab alfiyah.

Al ismu (kata benda) itu dikenali dengan bisa masuknya aljarru, attanwinu, annida, alif lam (lam ta’rif) dan musnad ilaihi. Yang dimaksud dengan al jarru dalam konteks ceramah beliau adalah tawadhu’, menghilangkan kesombongan yang ditandai dengan merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Attanwin dimaknai memperjelas niat, dalam hadits yang masyhur dijelaskan bahwa segala amal perbuatan itu tergantung niat dan motivasinya.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan annidaa dalam kehidupan ini adalah berdzikir. Penyakit-penyakit fisik bisa diobati dengan obat-obat yang direkomendasikan oleh para dokter, adapun penyakit hati hanya bisa disembuhkan dengan banyak berdzikir, mengungat dan menyebut asma Allah yang indah nan sempurna. Alif lam (lam ta’rif) yang menjadikan ism nakirah menjadi ma’rifat bermakna manusia harus berfikir. Terutama berfikir untuk apa dan siapa ia berada di alam dunia fana ini?. Terakhir, yang dimaksud musnad ilaihi adalah amal nyata. Setinggi dan seluas apapun ilmu pengetahuan seseorang, tidak akan bernilai jika tanpa realisasi dan aplikasi. Semoga menjadi santri nan berkah!.
READ MORE - halal bihalal di darunnajah Read more...

tag

Followers

Text


  ©Template by Blogger. Design By Tips dan Trik Blog